Kamis, 13 Oktober 2011

Menanti Siang


                                                                   
                                                                      ******


Halo!” sapaku lantang.

Yang ku sapa menoleh dan menebar senyuman. Orang menganggap Hujan itu selalu sendu, padahal bagiku dia cukup ramah. Dia tak ramah hanya ketika marah.

Boleh menumpang?” aku tahu terlalu awal datang. “Silakan...toh aku hanya sebentar menyegarkan padi-padi ini. Petani harus panen bulan depan,” jawab Hujan sambil lanjut berkeliling ladang.

Aku mengambil tempat biasa, menikmati suasana sebelum sahabatku datang.

Tak lama Hujan berpamitan, dan Malam pun menjelang.

Aku tahu tabiat Malam, kami bersahabat nyaris seumur hidupku, dia mudah membuat orang mencurahkan perasaan. Bahkan beberapa orang mencintai Malam jauh lebih dalam ketimbang Siang.

Penantian yang sama ya?” Malam melirikku yang memasang sikap diam.

Aku mengangguk. Tak mau terpancing untuk bicara, dinasehati, dan berakhir dengan kegagalan. Kali ini aku harus berhasil.

Malam membiarkan aku diam dan terbang, sambil sesekali menatap arah dia tadi datang.

Sampai ketika Embun bermunculan, aku tahu Pagi mulai bersolek cantik dan Malam harus pulang. Dia menawarkan tumpangan tapi aku menolak, sudah ku bilang kali ini aku harus berjuang.
Malam menyerah lalu menitipkan aku kepada Pagi.

Jadi semalaman kamu disini?” tanya Pagi dengan lembut.

Aku mengangguk bangga. Menari-nari riang karena sebentar lagi yang ku tunggu datang.

Untuk apa, Nak? Apa tujuanmu menunggu Siang?” 

Aku menghentikan tarian. Sepertinya ada yang membutuhkan penjelasan. Aku sudah sejauh ini. Aku tak mau gagal.

Aku ingin berkenalan...” jawabku mantap. 

“dengan Matahari.”

Pagi menatapku aneh, nyaris tertawa geli, tapi ditahan. Aku tahu banyak yang bereaksi sama saat tahu niatku. Tapi tak banyak dari mereka yang menanyakan tujuanku. Kali ini ada yang ingin tahu.

Mengapa?” tanya Pagi bijak.

Aku diam sesaat dan menjawab pelan, “Karena aku ingin tahu seberapa terang Matahari jika dibanding sinarku.”

Pagi mengusap pelipisku, “Nak, setiap terang adalah terang. Tak peduli jika hanya kecil dan tak sebanding dengan Matahari. Terang tetaplah Terang.”

Aku merenung…, kemudian memutuskan pulang.

Rasanya tubuh kecilku memang hanya bisa memuat sinar kecil, tapi jika memang itu yang bisa kapasitasku dan terbaik yang bisa ku lakukan rasanya tak ada gunanya membandingkan.

Nanti jika aku bertemu Malam, akan ku beritahu bahwa aku bangga menemani dia dan menerangi ladang.

Oh ya, perkenalkan, namaku Kunang-kunang.


                  ******

 
Flashfiction di atas ditulis oleh seseorang dengan nickname Seraphine. Siapa pun kamu, aku suka sekali sama tulisanmu ini loh. Keep writing! :) 

Flashfiction dari Seraphine ini diikutkan dalam Ubud Writers and Readers Festivals 2010
Sudah pernah dengar tentang festival ini sebelumnya? Saya sendiri selama ini cuma tahu-tahu aja, tapi gak pernah ngeh apa itu Ubud Writers and Readers Festival (UWRF)  yang sebenarnya kayak gimana dan ini sebetulnya hajatan seperti apa. 

Belakangan ketika blogwalking, UWRF ini banyak disebut-sebut, maka jadi timbullah rasa penasaran. Dari websitenya, dijelaskan bahwa UWRF ini adalah salah satu diantara 6 festival sastra terbesar di dunia, yang pertama kali diadakan pada tahun 2004 untuk mengembalikan kondisi pariwisata Bali yang turun karena peristiwa peledakan bom. 

Hmmmm.....saya mesti banyak-banyak blogwalking neh.....^^ 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feel free to comment...^^