******
“Halo!” sapaku
lantang.
Yang ku sapa menoleh
dan menebar senyuman. Orang menganggap Hujan itu selalu sendu,
padahal bagiku dia cukup ramah. Dia tak ramah hanya ketika marah.
“Boleh menumpang?”
aku tahu terlalu awal datang. “Silakan...toh aku hanya sebentar
menyegarkan padi-padi ini. Petani harus panen bulan depan,” jawab
Hujan sambil lanjut berkeliling ladang.
Aku mengambil tempat
biasa, menikmati suasana sebelum sahabatku datang.
Tak lama Hujan
berpamitan, dan Malam pun menjelang.
Aku tahu tabiat Malam,
kami bersahabat nyaris seumur hidupku, dia mudah membuat orang
mencurahkan perasaan. Bahkan beberapa orang mencintai Malam jauh
lebih dalam ketimbang Siang.
“Penantian yang sama
ya?” Malam melirikku yang memasang sikap diam.
Aku mengangguk. Tak
mau terpancing untuk bicara, dinasehati, dan berakhir dengan
kegagalan. Kali ini aku harus berhasil.
Malam membiarkan aku
diam dan terbang, sambil sesekali menatap arah dia tadi datang.
Sampai ketika Embun
bermunculan, aku tahu Pagi mulai bersolek cantik dan Malam harus
pulang. Dia menawarkan tumpangan tapi aku menolak, sudah ku bilang
kali ini aku harus berjuang.
Malam menyerah lalu
menitipkan aku kepada Pagi.
“Jadi semalaman kamu
disini?” tanya Pagi dengan lembut.
Aku mengangguk bangga.
Menari-nari riang karena sebentar lagi yang ku tunggu datang.
“Untuk apa, Nak? Apa
tujuanmu menunggu Siang?”
Aku menghentikan tarian. Sepertinya ada
yang membutuhkan penjelasan. Aku sudah sejauh ini. Aku tak mau gagal.
“Aku ingin
berkenalan...” jawabku mantap.
“dengan Matahari.”
Pagi menatapku aneh,
nyaris tertawa geli, tapi ditahan. Aku tahu banyak yang bereaksi sama
saat tahu niatku. Tapi tak banyak dari mereka yang menanyakan
tujuanku. Kali ini ada yang ingin tahu.
“Mengapa?” tanya
Pagi bijak.
Aku diam sesaat dan
menjawab pelan, “Karena aku ingin tahu seberapa terang Matahari
jika dibanding sinarku.”
Pagi mengusap
pelipisku, “Nak, setiap terang adalah terang. Tak peduli jika hanya
kecil dan tak sebanding dengan Matahari. Terang tetaplah Terang.”
Aku merenung…,
kemudian memutuskan pulang.
Rasanya tubuh kecilku
memang hanya bisa memuat sinar kecil, tapi jika memang itu yang bisa
kapasitasku dan terbaik yang bisa ku lakukan rasanya tak ada gunanya
membandingkan.
Nanti jika aku bertemu
Malam, akan ku beritahu bahwa aku bangga menemani dia dan menerangi
ladang.
Oh ya, perkenalkan,
namaku Kunang-kunang.
******
Flashfiction
di atas ditulis oleh seseorang dengan nickname Seraphine. Siapa pun
kamu, aku suka sekali sama tulisanmu ini loh. Keep writing! :)
Flashfiction dari Seraphine ini diikutkan dalam Ubud Writers and Readers Festivals 2010.
Sudah
pernah dengar tentang festival ini sebelumnya? Saya sendiri selama ini
cuma tahu-tahu aja, tapi gak pernah ngeh apa itu Ubud Writers and Readers
Festival (UWRF) yang sebenarnya kayak gimana dan ini sebetulnya hajatan seperti apa.
Belakangan ketika
blogwalking, UWRF ini banyak disebut-sebut, maka jadi timbullah rasa
penasaran. Dari websitenya,
dijelaskan bahwa UWRF ini adalah salah satu diantara 6 festival
sastra terbesar di dunia, yang pertama kali diadakan pada tahun 2004
untuk mengembalikan kondisi pariwisata Bali yang turun karena
peristiwa peledakan bom.
Hmmmm.....saya mesti banyak-banyak blogwalking neh.....^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
feel free to comment...^^