Rabu, 21 September 2011

berteman dengan siapa?

     Entah apa tertulis  di kening saya, sejak kecil hingga hari ini, saya selalu punya teman yang paling ‘enggak banget’ diantara teman-teman saya yang lain. Sebagai contoh waktu SD ada seorang kawan yang kami panggil Eman. Nama sebenarnya seh Sulaiman. Dia, kami menyebutnya orang yang selalu dijadikan ‘pelampiasan penindasan’. Jadi kalau ada teman-teman yang lain yang lagi kesel atau marah-marah, maka dialah orang yang harus ‘bertanggung jawab’. Dia akan dipukuli rame-rame lalu dilempar ke tanaman bonsai-bonsaian  di depan kelas. Kejam, memang. Tapi dia seperti orang ‘sado-masochist’, senang saja diperlakukan seperti itu. Paling banter setelah ngomel-ngomel sebentar sambil ngebersihin badannya, dia balik lagi berkumpul dengan kami. Tertawa dan bermain seperti biasa.

     Eman sering datang ke meja saya, duduk di bangku sebelah, dan bercerita tentang ini dan itu. Saya samasekali tidak keberatan berteman dengan dia. Karena bagi saya, dia adalah teman yang baik dan gak pernah mengganggu saya. Tahu enggak apa yang terjadi dengannya saat ini? Dia jadi tukang parkir di daerah mall mataram di Lombok sana. Padahal, dulu dia adalah salah satu geng tajir di sekolah. Dan, sampai hari ini, saya tetap berteman dengannya. Walaupun jujur saya jarang ketemu dia.

     Teman ‘ajaib’ saya yang lain bernama Maskur. Dia adalah teman semasa kuliah dari kampus sebelah. Maskur tidak punya teman tetap. Dia hinggap dari satu grup ke grup yang lain. Kehadirannya dianggap ada dan tiada oleh kami semua. Lucunya, dia sering duduk disamping saya. Dan out of the blue, menceritakan tentang saudara perempuannya. Lalu bicara filsafat, tentang keberadaan manusia, konsep ketuhanan, dan subjek ‘enggak jelas’ lainnya.

     Biasanya sih, satu-dua teman ikutan nimbrung. Selanjutnya, tingal saya seorang yang tabah menghadapinya. Buat saya, dia menarik karena punya cara pikir yang unik, berbeda dengan orang lain. Kadang saya tertawa untuk komentar dia yang aneh, padahal sih dia maksudnya serius hehehe... Kemudian dia menghilang, katanya dia menjalani hidup sufi, melakukan perjalanan mencari Tuhan. Hidupnya dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain. Ceritanya mirip banget ama kisah film silat jaman dulu. Bener, tidak?

     Lain lagi dengan salah satu teman saya yang lain. Julukannya ‘J’. Teman-teman saya yang lain menganggap kelakukannya ‘minus’ banget.  Karena dia suka gonta-ganti pacar dan terkenal sebagai ‘ayam kampus’. Anehnya, dia selalu datang pada saya, menceritakan apapun semua rahasianya, dan berkeluh kesah tentang kelakuan pacar-pacarnya yang suka KDRT atau orang-orang yang menggunakan ‘tubuhnya’. Teman-teman saya yang lain ga mau dekat dan berteman dengan dia. Dengan alasan takut dicap hal yang sama oleh orang lain.

     Atau kisah seorang teman ‘ajaib’ saya yang lain, yang selalu bercerita dan mengatakan pada orang-orang betapa malangnya kehidupannya dari lahir hingga sekarang. Begitu tragisnya ceritanya tentang dia yang berasal dari keluarga broken home, orang tua yang bercerai, kehilangan pacar, dan bla, bla, bla yang lain. Teman-teman yang lain ga sanggup harus mendengar keluhannya setiap hari. Karena selalu diulangi dan diulangi lagi tiap hari. Istilahnya seh, tiada hari tanpa mengeluh. Tapi, saya betah aja mendengar semua ceritanya. Karena saya berusaha dan mencoba memposisikan diri saya sebagai dia. Terkadang ada rasa bosan dan jenuh melanda. Tapi, saya berusaha selalu menjadi pendengar yang baik bagi dia. Hei, saya juga manusia, kan? Yang masih punya rasa bosan terhadap sesuatu...^^

     Saya punya beberapa teman dekat dengan kelakukan dan sifat ‘ajaib’ yang lain. Tapi, kalau diingat-ingat lagi, saya sebenarnya bisa dibilang tidak punya geng. Saya cenderung berteman dengan banyak kelompok, dengan berbagai karakter. Mungkin itu juga yang membuat ‘orang-orang ajaib’ itu tak enggan menghampiri saya dan menjadikan saya sebagai temannya. Karena saya tidak punya label sebagai anggota geng tertentu atau kelompok dengan ekslusivitas.

     Kini saya berpikir, apa sih artinya berteman? Seberapa penting sih membina hubungan pertemanan? Seberapa perlu sih kita memilih teman? Seberapa berpengaruh sih seorang teman bagi kehidupan kita kelak?
Bagi saya pertemanan adalah sebuah proses yang membuat saya jadi kaya. Beruntung Bapak saya selalu bilang, jangan pilih-pilih teman. Bertemanlah dengan semua orang, termasuk dengan manusia yang paling ‘brengsek’ di dunia. Apakah kita akan berubah karena teman? Bisa jadi. Apakah kita akan ikut kacau karena berteman dengan orang yang kacau juga? Belum tentu. Ada seorang teman yang memberi nasehat pada saya, jangan berteman dengan orang2 yang enggak bener. Karena ntar bisa ketularan kelakuan minusnya. Menurut saya enggak harus begitu juga.

     Hidup, kan tidak sesederhana itu. Jujur ya, saya senang banget mendengar cerita teman-teman saya. Karena tanpa harus mengalaminya sendiri (walaupun ada juga yang ceritanya mirip dengan cerita saya...^^), saya bisa belajar dari pengalaman teman-teman saya itu. Dan setiap orang mempunyai sisi menarik untuk digali. Bener tidak? Semua hal, termasuk kita mau ikut-ikutan jadi brengsek atau enggak hanya kita sendiri yang tahu jawabannya seperti apa. Kita sendiri yang menentukan akan jadi orang seperti apa kita kelak dan bukannya orang lain yang menentukan. Yakini hal itu, insya Allah maka itulah yang akan terjadi.
Semangat hari ini, Teman.....^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feel free to comment...^^